Perjuangan Guru Kembar Pendiri Sekolah Darurat Kartini Diabadikan di Film ‘Dua Mawar Merah’

Sebuah film dokumenter berjudul ‘Dua Mawar Merah’ yang berkisah perjuangan dua saudara kembar dalam mendirikan sekolah darurat Kartini (gratis) bagi anak-anak kaum marginal, diputar di Cinema XXI Grand Metropolitan, Kota Bekasi. Film tersebut merupakan apresiasi atas dedikasi keduanya terhadap dunia pendidikan.

Adalah Sri Rosyati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Rian), dua guru kembar yang sejak 1990 silam mengabdikan diri mengajar anak-anak jalanan dan putus sekolah, tanpa menerima bayaran sepeser pun. Anak didik yang diajar mulai dari usia Paud hingga SMA, yang seluruhnya berasal dari keluarga miskin ibu kota.

Banyak rintangan yang harus dilalui Rossy dan Rian dalam usahanya untuk terus mempertahankan sekolah, termasuk kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kala itu dinilai tidak berkeadilan. Sekolah yang berlokasi di pinggiran rel dan kolong jembatan, Kampung Walang, Jakarta Utara itu, sempat berpindah-pindah sebanyak lima kali, akibat terkena gusur pihak Pemprov DKI Jakarta.

Seiring perjalanannya yang jatuh bangun, sekolah Kartini cukup banyak menerima sumbangan dari berbagai donatur. Salah satunya dari PT Metropolitan Land TBK (Metland) melalui Yayasan Metropolitan Peduli (YMP).

“Jadi waktu tahun 1996, kami meminta bantuan seragam putih untuk anak-anak ke pihak Metland, yang saat itu belum ada yayasannya. Karena kalau tidak pakai seragam, anak-anak merasa tidak sekolah. Jadi kami berikan seragam. Khusus sekolah kami warna seragamnya putih biru,” kata Sri Irianingsih saat konferensi pers usai pemutaran film, di Bekasi, Kamis (15/2/2018).

Kedua guru kembar itu sangat bersyukur dengan apa yang telah dicapainya saat ini. Jumlah murid yang terus bertambah hingga mencapai ratusan, menunjukkan betapa tingginya keinginan anak-anak kolong jembatan untuk menimba ilmu pendidikan.

“Dalam hidup kita harus ada pembiasaan untuk berbuat baik, seperti yang kita lakukan kepada adik-adik kolong jembatan itu,” imbuhnya.

Mereka beranggapan apa yang telah diperjuangkan selama ini merupakan bagian dalam mencari ridho Allah. Kehadiran anak-anak dianggap sebagai rezeki yang patut disyukuri. Meski perjuangannya tidak mudah dan murah, namun keduanya ikhlas menjalani.

“Tidak berbagi sangat merugi hidup di dunia. Jangan dihitung bila berbagi, jangan minta kembali bila memberi,” ucapnya.

Sementara sang sutradara film, Adjat Suratma mengaku, pembuatan film berdasarkan potret keseharian anak didik kedua guru kembar dan perjuangan keduanya dalam mengajar.

“Jika sudah melihat film ini, masyarakat jadi tahu bahwa ada tugas yang harus sama-sama diselesaikan, yaitu kebodohan dan kemiskinan,” katanya.

Film yang diproduksi sebuah kampus gratis, Akademi Indonesia, diakui Adjat menyajikan tontonan yang sarat makna dan menginspirasi.

“Film ini kaya dengan pelajaran hidup dan kritik sosial yang sangat relevan dengan keadaan yang terjadi saat ini,” tandasnya.

Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk menyampaikan, sejak tahun 2002, YMP bersama sekolah Kartini kerap melakukan kerjasama di bidang sosial.

“Dukungan ini merupakan apresiasi kami terhadap dedikasi ibu guru kembar, yang selama 28 tahun mengelola sekolah darurat Kartini. Dan sekaligus momen perayaan HUT Metland ke-24 tahun,” ujarnya.

Sumber : https://edukasi.okezone.com/read/2018/02/15/65/1860195/perjuangan-guru-kembar-pendiri-sekolah-darurat-kartini-diabadikan-di-film-dua-mawar-merah

Published by akademiindonesiasdk

Akademi Indonesia Sekolah Darurat Kartini

Leave a comment